Akses ke NTFS dari LinuxOS

October 20, 2008

Akses ke NTFS dari LinuxOS

Menurut survey masih banyak pengguna Linux yang di kompinya menggunakan dual OS antara Linux dan Windows XP. Kadang alasannya begitu sepele karena di game2 Windows tidak semua bisa dijalankan di Linux (padahal alasan ini dari saya ). Tetapi masalah yang sering kali muncul ketika menggunakan Linux, partisi Windows XP yang memakai file sistem NTFS tidak dapat dibaca atau bahkan untuk menyimpan file. Biasanya beberapa sistem Linux menyediakan satu paket bernama ntfsprogs yang sudah terbundel dalam source. Sayangnya paket ini hanya memiliki akses untuk membaca saja. Agar dapat digunakan selayaknya file sistem yang bisa read/write, maka Linuxers dapat menggunakan paket ntfs-3g sebagai alternatif solusi.

Installasi paket

# tar xfvz ntfs-3g.20070714-BETA.tgz

# cd ntfs-3g.20070714-BETA

# ./configure

# make && make install

Trouble shooting

Kalau ada pesan error waktu penginstallan, cek lagi paket fuse, fuse-libs, fuse-devel dan kernel-devel terinstallasi dengan baik di kompi ente.

Jalankan program

Perintah melakukan mounting ke NTFS:

# ntfst-3g [partisi NTFS yang ingin diakses] [mount point]

Contoh:

# ntfst-3g /dev/hda1 /mnt/windows

–>> Dengan catatan direktori /mnt/windows sudah dibuat

Perintah untuk user biasa (bukan root)

# ntfs-3g /dev/hda1 /mnt/windows –o silent, umask=0, locale=hu_HU.utf8

Kalau ingin memount secara otomatis ketika boot.

Perintahnya:

ntfs-3g /dev/hda1 /mnt/windows –o silent, umask=0, locale=hu_HU.utf8 0 0

–>> Masukin script ini di /etc/fstab

Sekarang Linuxers bisa mengakses partisi WindowsXP-nya (NTFS) dengan hak akses read/write. Semoga bermanfaat.

Advertisements

Belajar Linux Ubuntu

October 20, 2008

OpenOffice di Ubuntu »

Install Linux Ubuntu

Mengambil momentum 17-an, saya mencoba memerdekakan kebutuhan saya akan komputer dengan mencoba melakukan instalasi Linux Ubuntu pada sistem komputer saya. Pada mulanya saya memikirkan untuk untuk melakukan dual boot pada komputer yang akan saya instal Linux, tapi berhubung MBR harddisk saya menunjukkan gejala yang tidak beres yang saya simpulkan karena pada saat booting tidak mendeteksi “Jendela” yang terpasang di komputer, maka saya memberanikan diri dengan melakukan instalasi satu sistem operasi Linux saja.

Alasan saya memilih distro Ubuntu karena distro inilah yang datang di depan pintu rumah saya tanpa saya harus beranjak pergi dan dengan hanya membayar Rp. 3000 pada pak pos. Versi Ubuntu yang saya pakai adalah versi 7.04 dengan jejuluk Feisty Fawn. Saya juga baru tahu hari ini kalo penamaan versi di Ubuntu menggunakan tahun dan bulan release 7.04 berarti direlease tahun 2007 pada bulan April, dan karena release Ubuntu menurut info terjadi setiap semester, maka vesi terbaru yaitu 7.10 akan release pada bulan Oktober.

Alasan lain kenapa saya memilih Ubuntu karena saya kurang familiar dengan Linux dan perintah-perintah untuk menjalankannya. Banyak orang ngomong tentang Ubuntu dan banyak sticker Ubuntu nempel dimana-mana yang kemudian membuat saya cukup yakin memilih Ubuntu karena kalo saya mengalami kesulitan maka akan lebih mudah bagi saya untuk “njawil” orang-orang yang pasang stiker Ubuntu tersebut

Instalasi berjalan dengan cukup mudah, maaf kalo saya tidak menyertakan screenshot instalasi karena saya sama sekali tidak mengerti bagaimana membuat screenshot sewaktu melakukan instalasi Ubuntu. Yang saya ingat instalasi terdiri dari 7 tahapan yang dapat pula dilihat di sini yang menurut saya cukup mudah dipahami oleh orang yang belum pernah instal sistem operasi sebelumnya, kecuali waktu tahap partisi harddisk karena perlu hati-hati dalam memutuskan agar data tidak hangus.

Tapi setelah Ubuntu terinstal, maka untuk mendapatkan screenshot cukup dengan menekan tombol printscreen di keyboard dan kemudian disimpan. Format penyimpanan gambar yang digunakan secara default oleh Ubuntu adalah PNG.

Berikut tampilan desktop Ubuntu yang berhasil saya install. Kalau dilihat dan dirasakan dengan sentuhan mouse kesan pertama yang saya dapatkan adalah Linux tidak jauh berbeda dengan Jendela. Saya tidak tahu kalau ini hanya kesan pertama saja dan selanjutnya terserah anda berbeda

Sedikit manjelajah, berikut tampilan File Browser direktori milik user. Kalo boleh dianalogikan, File Browser ini seperti Windows Explorer dan direktori user ini seperti My Documents dimana didalamnya terdapat ikon-ikon yang dapat dijalankan dengan cara double click atau klik dua kali. Klik kanan serta ritual copy – paste ala Jendela juga dapat ditemui di Ubuntu.

Melanjutkan penjelajahan, berikut adalah File System yang mempunyai folder-folder dengan nama-nama yang aneh

Kalo dilihat-lihat, ini seperti folder Windows di Jendela dimana tersimpan file-file untuk menjalankan Ubuntu. Karena saya belum begitu paham, maka saya tidak dapat menceritakan lebih banyak. Mungkin nanti kalo saya sudah semakin tahu saya bisa bercerita tentang fungsi dan guna dari folder-folder di File System

Karena saya belum tahu bagaimana melakukan koneksi internet di Ubuntu untuk kemudian posting tulisan ini, saya coba-coba colokkan flashdisk ke port usb di belakang CPU dengan harapan dapat terbaca seperti yang terjadi di Jendela dan eng ing eng… ternyata bisa terbaca

Karena keterbatasan pengetahuan tentang koneksi internet tersebut, maka saya salin screenshot ke dalam flashdisk dan kemudian nulis postingan ini di Jendela

Sekian dulu dari saya. Saya mau mencoba menjelajah Ubuntu lagi dan besok kita bahas tentang Office di Linux Ubuntu.